Selasa, 09 Desember 2008

Mari Menulis Esai Sastra

Dalam jagad penulisan, esai sastra adalah salah satu bentuk karya tulis yang marak diciptakan oleh berbagai kalangan sastra. Pamor esai sastra ini nampaknya cukup kuat menyedot perhatian publik sastra dari mulai pengkaji, sastrawan, pembaca, ataupun penerbit. Daya tarik tersebut tidak terlepas dari karakteristik esai sastra itu sendiri yang nota bene sebagai karangan subjektif. Hal tersebut merupakan tantangan yang menarik. “yang menjadi lebih pandai bukan saja pembacanya, tapi juga pengarangnya.” Jelas Dr. Budi darma, MA. Dalam “Sejumlah Esai Sastra” nya.

Pengertian Esai Satra Tidak menutup kemungkinan, bisa saja seseorang dapat menulis karangan yang nota bene kemudian disebut sebagai bentuk dari esai sastra meskipun tanpa memahami pengertian dari esai sastra itu sendiri. Namun, tidak akan rugi rasanya jika setelah itu kita ingin lebih memahami tentang apa sih esai sastra menurut pendapat para ahli dibidangnya? Dengan begitu, mudah-mudahan kita bisa lebih teguh lagi untuk memberi identitas karya tulis kita sebagai esai sastra. Bukan kritik sastra, resensi, komentar singkat, atau karya lainnya. Untuk itu, marilah kita simak beberapa pengertian esai sastra menurut para ahli berikut ini.

Menurut H.B. Jassin (Sang Paus Sastra) esai adalah uraian yang membicarakan bermacam ragam, tidak tersusun secara teratur tetapi seperti dipetik dari bermacam jalan pikiran. Dalam esai terlihat keinginan, sikap terhadap soal yang dibicarakan, kadang-kadang terhadap kehidupan seluruhnya Arief Budiman menarik pengertian esai sebagai karangan yang sedang panjangnya, yang membahas persoalan secara mudah dan sepintas lalu dalam bentuk prosa.
Sementara itu pendapat dari Soetomo menyebut bahwa esai adalah sebagai karangan pendek mengenai suatu masalah yang kebetulan menarik perhatian untuk diselidiki dan dibahas. Pengarang mengemukakan pendiriannya, pikirannya, cita-citanya, atau sikapnya terhadap suatu persoalan yang disajikan.

Pendapat yang lainnya muncul dari F.X. Surana yang menerangkan esai sebagai kupasan suatu ciptaan, tentang suatu soal, masalah pendapat, ideology, dengan panjang lebar. Kupasan ini berdasarkan pandangan penulisnya dan diutarakan secara tidak teratur.

Aan Sugianto Mas dalam modul untuk materi perkuliahan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kuningan tahun 1998 menarik kesimpulan dari beberapa pendapat tersebut bahwa esai adalah karangan prosa yang membahas suatu masalah secara sepintas lalu dengan pendirian, pikiran, cita-cita, sikap penulisnya yang diutarakan secara tidak teratur.

Dari pengertian-pengertian tadi, beliau juga menuliskan tentang cirri-ciri esai sebagai berikut;1.Pendek ,2.Berbentuk prosa,3.Bersifat subjektif, 4.Bersifat menerangkan saja, 5.Tidak teratur disbanding kritik.

Perbedaan Antara Esai Sastra dan Kritik Sastra

Setelah menyimak uraian di atas, ada baiknya kita membandingkan kritik sastra dan esai sastra sebagai bagian dari kritik sastra yang mempunyai ciri dan karakteristik sendiri. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat membedakan yang mana kritik dan yang mana esai sastra ketika disuatu waktu kita membutuhkan referensi untuk kepentingan penelitian ataupun penambah wawasan dalam mengasah karya esai kita.

Selain di dalam kritik sastra terdapat penilaian baik buruk , kritik sastra juga lebih sistematis dibanding esai, oleh karena itu kritik sastra tidak bisa pendek dan secara otomatis harus objektif. Sedangkan esai sastra yang bersifat subjektif, uraiannya cenderung lebih pendek disbanding kritik sastra sebab hanya bersifat menerangkan dan esai sastra ini akan cenderung tidak teratur sistematikanya.

Menulis Esai Sebagai Permulaan

Sebagai langkah awal (untuk pemula) cobalah untuk membuat esai sastra mengenai karya sastra yang pernah dibaca atau yang ingin dibaca dan tentunya agar lebih menarik, karya sastra tersebut harus yang disenangi baik puisi, prosa fiksi, ataupun drama, atau bahkan mencoba membuat esai tentang esai atau tentang kritik sastra sendiri. Uraiannya bisa mengenai tema, amanat, atau apapun yang sesuai dengan minat dan pengetahuan kita tentang sastra.

Selamat mencoba. Saya yakin siapapun anda, pasti akan dapat membuat esai sastra. Dengan membaca uraian yang saya suguhkan ini pun telah membuktikan minat anda terhadap esai sastra, anda tinggal mulai menulis dari sekarang. Masalah kualitas, asal kita terus berlatih dan memperbanyak referensi, pasti dapat memukau setiap pembaca esai sastra kita dan tentunya akan bermanfaat bagi khalayak sastra.
Kembali lagi pada tulisan Dr. Budi Darma “Yang menjadi lebih pandai bukan saja pembacanya, tapi juga pengarangnya.” Mudah-mudahan saja. Di suatu ketika, kita termasuk yang pernah memberikan sesuatu pada Khalayak Sastra Indonesia khususnya dalam penulisan esai sast

Cilaja-Kuningan, 31 Januari 2005

(Sumber; penulislepas.com)

Komunitas Membaca dan Menulis

Tentang Mengulas Film

Oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

"Dalam kesenian, satu-satunya sumber informasi yang bebas hanyalah kritik.Lainnya itu iklan."
(Pauline Kael, dikutip oleh JB. Kristanto, dalam “Apa Sih Maunya Resensi Film Itu? Kritikus Film: Paria Superstar”, Nonton Film Nonton Indonesia, Penerbit Kompas, 2004.)

Seperti film Indonesia, tulisan-tulisan tentang film di Indonesia juga tak berkembang jauh secara estetis. Malah, tampak gejala kemunduran.

Rata-rata ulasan film di media massa kita masih merupakan anak dari sebuah tradisi kasip penilaian “bagus-jelek” atas cerita film, ditambah penilaian serbasedikit atas unsur filmis lainnya seperti: keindahan gambar, seni peran, dan kadang musik latarnya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tampak bahkan struktur ulasan film di media massa pun itu-itu saja: (a) ulasan dibuka dengan deskripsi cuplikan adegan yang dianggap paling menarik oleh pengulas; (b) lalu diuraikan sinopsis cerita dan info-info yang dianggap penting tentang film itu, seperti siapa pembuat dan para bintangnya; (c) lalu penilaian serba sedikit tentang beberapa unsur seperti cerita, gambar, seni peran, dan lainnya; (d) dan akhirnya, keputusan akhir bahwa film itu “bagus” atau “jelek” (paling sering, pengulas cari aman dengan varian kategori tengah-tengah: “lumayan”) yang bernada menyaran apakah penonton perlu menontonnya atau tidak.

Adanya kebutuhan untuk tak membosankan, juga perbedaan besar atau kecil ruang yang tersedia untuk ulasan film dalam setiap media, membuat banyak variasi dari struktur ulasan di atas. Misalnya, ada yang mengacak urutan poin di atas. Atau, jika ruang yang tersedia sangat kecil, struktur itu diciutkan menjadi hanya mengandung poin b, c, d, atau b dan d saja.

Masalah utama tradisi ulasan film macam ini adalah pada kategori “bagus” dan “jelek” itu. Pertama, kategori itu lebih condong pada selera si pengulas. Kalau kebetulan si pengulas memang berselera tinggi, maka kategori itu jadi bermanfaat. Kalau (dan ini yang sering terjadi belakangan) kebetulan selera si pengulas kurang terasah karena, misalnya, ia penulis belum berpengalaman yang disuruh menulis bidang “hiburan” yang dianggap “ringan” –nah, pembaca bisa dirugikan.

Kedua, “baik” atau “buruk” itu cenderung pada pemaknaan “menghibur” atau “tidak menghibur”. Jika ini yang jadi patokan, manfaat dan potensi film direduksi belaka oleh sang pengulas. Sebab, makna “menghibur” atau “tidak menghibur” lebih sering didefinisikan oleh kelaziman dalam industri hiburan arus utama (mainstream). Agar “menghibur”, misalnya, film harus disederhanakan; tak boleh membuat penonton berpikir; kalau bisa, banyak menyentuh tombol-tombol emosi paling dasar (ngeri, tegang, senang, gembira) dengan formula-formula yang sudah baku. Kata “menghibur” jadi tunggalmakna.

Sering juga, industri hiburan arus utama memaknai kata “hiburan” sebagai “eskapisme”. Logikanya begini: orang menonton film ingin melupakan kenyataan hidup yang susah. Dengan mematok sifat “menghibur” (dalam pengertian arus utama) sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah film, sang pengulas cenderung memenangkan film-film eskapis di atas jenis film lain. Potensi film untuk “menghibur” akal budi penonton, dengan mengajak penonton memikirkan sebuah masalah hidup, misalnya, cenderung direduksi.

Namun, secara paradoksal, kecenderungan pada film eskapis dibarengi pada pemujaan terhadap gaya realisme. Sederhananya, film adalah make-believe (atau, meminjam terjemahan yang baik dari Eric Sasono: “reka-percaya”); dan jurus yang dianggap paling ampuh untuk mencapai efek reka-percaya ini adalah realisme.

Apakah cerita masih penting?
Dalam khasanah film arus utama di Hollywood, cerita jadi tolok ukur utama. Sebuah film akan diukur dari menarik atau tidak ceritanya; dan bagaimana unsur-unsur cerita, bahkan unsur-unsur film itu sendiri, mendukung cerita tersebut (apakah memperlancar cerita atau tidak, misalnya).

Sebab utama, memang demikianlah modus produksi film arus utama. Para pembuat film akan berangkat dari cerita yang dibayangkan akan menarik minat para penonton. Begitu banyak ragam teknik dikembangkan untuk modus produksi ini. Antara lain, berkembangnya istilah “premis” cerita.

Sebuah film, dalam premis ini, seyogyanya, bisa dirumuskan dalam satu kalimat saja. Semakin istimewa sebuah premis, semakin nyeleneh, maka ia akan disebut “high concept”. Dalam modus produksi begini, para pembuat film berlomba-lomba mengejar “konsep” paling “tinggi”. Diterjemah dengan cara lain, ini berarti semakin eskapis suatu film semakin baiklah ia. Memang, modus produksi ini lama-lama tak memuaskan juga. Ada berbagai revisi dan penyesuaian dengan semangat zaman. Tapi, sebelum lebih jauh, kita lihat dulu dampak dari dominasi film cerita pada tradisi ulasan film yang ada.

Tradisi mengulas film dengan menempatkan cerita sebagai tolok ukur utama, bisa dilihat dalam contoh ini. Pada halaman 204 buku Katalog Film Indonesia 1926-2005, dalam lema film Nostalgia di SMA (1980, Sutradara: Syamsul Fuad), JB. Kristanto menulis: “Sebenarnya hampir tak ada cerita dalam film ini. Yang ada adalah serpihan kenangan yang digabung-gabung.” Kalimat ini mengandaikan pengertian tertentu tentang cerita. “Serpihan kenangan yang digabung-gabung” rupanya dianggap bukan cerita. Nada kalimat ini seperti menyesali ketiadaan cerita. Seolah penulis hendak berkata, film yang dibintangi Soekarno M. Noor dan Muni Cader itu menjadi cacat karena ketiadaan cerita.

Saya kebetulan membaca kembali kalimat itu beberapa saat setelah menonton sebuah tayang ulang Fist of Legend yang dibintangi Jet Li dalam sebuah stasiun televisi swasta kita. Ini film yang sangat saya sukai. Adegan laga yang paling saya sukai, dan saya anggap salah satu adegan kungfu terbaik sepanjang masa, adalah pertempuran persahabatan Chen Chen (Jet Li) lawan seorang master karate yang diperankan bintang kungfu lama, Yasuaki Kurata. Justru adegan itu dihilangkan.

Yang membuat saya tertarik dari penghilangan itu: jalan cerita ternyata tak terganggu sama sekali. Berarti, dari segi cerita, adegan yang paling saya suka itu memang tak perlu. Masalahnya, tetap saja saya terganggu oleh penghilangan itu. Saya bayangkan, jika ada orang lain melihat versi terpotong itu, lalu ia menemukan versi yang menyertakan adegan itu, kemungkinan besar ia akan lebih menyukai versi lengkap film itu. Nah. Di sini saya jadi mengerti, tak selamanya cerita mutlak menentukan mutu sebuah film.

Roger Ebert, pengulas film satu-satunya yang pernah mendapat Pulitzer, sangat sadar hal ini ketika ia memuji Kill Bill Vol. 1 (Sutradara: Quentin Tarantino) dengan komentar: “It’s all storytelling and no story”. Sebuah film boleh jadi tak memiliki cerita yang kuat atau koheren, atau tak punya karakter tokoh yang kuat, atau tak punya pesan apa-apa –dan kita masih bisa menikmatinya. (Dan di sini saya belum bicara film eksperimental!)

Tulisan JB. Kristanto yang saya contohkan di atas sebetulnya hanya jejak dari sebuah proses JB. Kristanto sendiri sebagai pengulas film berpengalaman di Indonesia. Ia boleh dibilang salah satu pengulas film yang paling serius memikirkan hakikat, cara kerja, posisi, dan fungsi kritik film di Indonesia. Pengantarnya untuk kumpulan tulisannya, Nonton Film Nonton Indonesia (Penerbit Kompas, 2004), yang berjudul “Kritik Film, Suatu Pengalaman”, menelisik perkembangan pemahamannya atas kritik film. Di situ, tergambar evolusi awalnya sebagai kritikus film dalam tradisi film cerita. Ini tampak jelas dari syarat-syarat yang ia tetapkan untuk sebuah film yang baik di masa itu.

Syarat pertama, ungkap JB. Kristanto, “...struktur kisahnya harus logis, memenuhi hukum sebab-akibat, dan dengan sendirinya karakter tokoh-tokohnya juga harus berkembang sesuai dengan jalur kisah dan sebab-akibat tadi.” Syarat kedua, “fotografi harus mampu menciptakan kembali realitas seperti yang seharusnya terjadi, karena bukankah hakekat kamera itu merekam realitas yang ada di depannya?” (Nonton Film Nonton Indonesia, halaman 4)

Namun, JB. Kristanto menceritakan betapa ia kemudian menthok sendiri dengan pisau bedah film itu. Singkatnya, ia berevolusi dan kemudian mencoba keluar dari tradisi menilai film cerita. Modal dasarnya adalah pengalaman awalnya bahwa ternyata film adalah sejenis “kesenian” (yang dalam pengertian beliau, bisa menjadi “replika kehidupan”). Di tahap akhir, ia menetapkan bahwa ia tak bisa lagi menerapkan begitu saja ukuran-ukuran lama. “(U)kuran atau nilai-nilai suatu film haruslah datang dari dirinya sendiri, karena pada dasarnya suatu karya seni ...adalah suatu unikum.” (Hal. 8)

Bagaimana JB. Kristanto mengoperasikan model penilaian ini? Pertama, pengulas harus mafhum maksud dan jenis sebuah film, dan menilainya berdasarkan maksud dan jenis film itu sendiri. Si pengulas harus terbuka terhadap segala jenis dan maksud film, tapi juga mesti mengembangkan “kepekaan menangkap gejala dan fakta-fakta film itu” (hal. 8). Untuk mengasah kepekaan itu, si pengulas harus punya pengetahuan yang luas tentang medium film. Namun, pengetahuan itu sekadar jadi alat bantu.

Kedua, pengulas membandingkan dengan film lain yang sejenis. Baik-buruk suatu film dari segi ini bergantung pada “keaslian” atau “originalitas” film yang diulas. Di titik ini, kepribadian sang pembuat film menjadi sangat penting atau diidealkan. Ketiga, si pengulas seharusnya bisa juga membaca konteks sosial film yang ia nilai. Rupanya, poin ketiga ini jadi penting sekali bagi JB. Kristanto, sehingga ia menulis: “(S)eberapa hebat pun pencapaian estetiknya, film harus bicara dalam konteks masyarakat Indonesia.” Jelas, poin ini bisa memancing debat hangat jika kita hendak mengembangkan tradisi kritik film yang baru di Indonesia.

Sementara ini, cukuplah dicatat bahwa –walau ia masih menyimpan jejak tradisi lama penilaian film cerita—JB. Kristanto mencoba bergerak ke jalan baru kritik film di Indonesia.

Berbagai jenis kritik film
Dan banyak jalan tersedia bagi seorang penulis yang ingin mengulas film. Veven Sp. Wardhana, misalnya, mencoba memetakan dua jenis kritik film. Pakem kritik film yang diurai di atas (struktur yang itu-itu saja, berpusat pada penilaian cerita), misalnya, termasuk yang disebut Veven sebagai “kritik synopsis(an)”. Sedang kritik jenis lain adalah “yang berisi telaah kritis” (Veven Sp. Wardhana, Membaca Sinema, Menonton Kritik Sinema, dalam Imaji, Jurnal Fakultas Film dan Televisi IKJ, edisi II, Maret 2006).

Kritik film yang berisi telaah kritis, oleh Veven dibagi lagi jadi beberapa jenis –Veven meminjam ragam kritik dalam khasanah dunia sastra. Misalnya, menurut Veven, ada kritik ekspresif yang mendasarkan diri pada teori bahwa sebuah karya seni adalah ekspresi penciptanya. Dalam kritik jenis ini, pengulas hendak mengetahui kehendak si pencipta, ragam idiom yang dipakai dan dieksplorasi untuk mengekspresikan diri si pencipta, dan seterusnya.

Ada juga kritik impresif, yang menitikberatkan kesan yang timbul dari si penikmat film, tanpa menganggap penting “ideologi” atau “pandangan dunia” si pencipta film itu. Subjektivitas dipersilakan, karena kesan setiap penikmat suatu film tentu berbeda-beda. Jenis kritik lain, kata Veven, adalah kritik akademis atau kritik objektif. Biasanya, kritik jenis ini dilakukan oleh para akademisi. Singkatnya, kritik jenis ini sangat dipenuhi oleh teori dan memang berurusan dengan penyusunan sebuah teori atas suatu karya (film).

Kritikus film dari Inggris, Tony Rayn, menawarkan pembagian lain saat ia datang dan memberi workshop penulisan ulasan film di Jakarta pada tahun 2005 lalu. Pengulas yang dikenal “ahli” Wong Kar Wai dan biasa menulis di Sight & Sound ini, menyatakan ada tiga jenis kritik film. Jenis pertama, kritik film sebagai consumer guide (panduan konsumen). Tujuan utama kritik ini adalah memandu pembaca memilih film apa yang akan mereka konsumsi –dengan tekanan pada pandangan “film sebagai hiburan”. Kritik jenis ini memang anak kandung industri film arus utama, utamanya Hollywood.

Leonard Matlin, yang rajin mengeluarkan buku panduan film setiap tahun serta rutin tampil di televisi Amerika setiap pekan, masuk ke dalam kategori ini. Sebetulnya, Roger Ebert juga masuk ke dalam kategori ini. Namun, seiring waktu, Ebert mengalami sofistikasi (pencanggihan) dalam penilaiannya. Memang, kritik film jenis “panduan konsumen” tak mesti terbatas pada jenis “kritik synopsis(an)” seperti disebut Veven di atas. “Panduan konsumen” yang ada dalam majalah Times, Newsweek, Entertainment Weekly, New Yorker, Empire, Total Film, Rolling Stone, misalnya, telah berkembang sebagai seni menulis yang ciamik bahkan canggih.

Kritik film yang semula ingin memandu konsumen pun, seperti kritik film dalam majalah New Yorker dan Rolling Stone, bisa melangkah ke jenis kedua kritik film menurut Rayn: kritik film sebagai perlawanan terhadap kapitalisme/konsumtivisme di dunia film. Rayn menempatkan dirinya dan kritik-kritik film dalam majalah Sight & Sound dalam kategori ini. Kritik jenis ini mengemban misi pendidikan masyarakat, dan berniat mencuatkan film-film yang “tak biasa” atau “tak sekadar menghibur”. Sinema dunia menjadi khasanah penting bagi kritik jenis ini.

Dalam kritik film jenis kedua inilah, kritik film yang bertumpu pada penilaian cerita film kehilangan relevansinya. Kritik film ini sebisa mungkin menjauhkan diri dari perangkap kategori “menghibur” atau “tak menghibur”. Barangkali ia akan menggesernya dengan kategori “menyentuh” (“moving” –seperti yang diterapkan oleh sutradara Ho Yuhang) yang lebih elastis. Kategori alternatif ini bisa melepaskan diri dari ikatan film arusutama atau bukan.

Film karya Steven Spielberg, misalnya, bisa menyentuh seperti juga Saraband (Ingmar Bergman) atau The Other Half (Yin Liang) juga bisa menyentuh. Tugas seorang pengulas jenis ini adalah mengasah kepekaan untuk menangkap sentuhan sebuah film. Sebuah film bisa menyentuh dengan cara yang tak tunggal: bisa lewat gambar, lewat pewujudan ide, lewat permainan bentuk, lewat dialog dan suasana, lewat segala unsur yang mungkin didedahkan oleh medium film.

Rayn sendiri, sebetulnya lebih purist dalam menerapkan kategori kedua ini. Misinya sebagai kritikus sungguh tegas: mengenalkan, mengangkat ke permukaan, segala yang bukan-Hollywood. Termasuk, ia akan menampik “sinema dunia” yang dibuat dengan modus produksi Hollywood.

Jenis ketiga kritik film menurut Rayn adalah kritik akademis yang menjadikan tulisan film sebagai ranah kajian film yang teoritis. Jenis ketiga ini kira-kira mirip dengan yang diuraikan Veven tentang kritik film yang mengandung telaah kritis.

Keterampilan, perspektif, dialog
Nah, dari sekian banyak jalan yang bisa dipilih seorang pengulas film itu, seberapa banyak yang telah dijelajah para penulis film kita? Tak banyak.

Memang, di satu sisi, selama sepuluh tahun terakhir, tak ada kritikus film yang menonjol macam Salim Said, JB. Kristanto, Radhar Panca Dahana, Marselli, atau Seno Gumira Ajidarma pada masa 1980-an hingga awal 1990-an. Ulasan film di media massa didominasi oleh tulisan para wartawan hiburan yang seringkali tak punya pengetahuan yang cukup tentang film. Hal ini bisa dengan mudah dikenali dari banyaknya kesalahan data yang fatal dan dasariah tentang film yang mereka ulas. (Kesalahan-kesalahan itu sudah sampai tingkat hazardous, berbahaya, bagi pembaca karena bersifat dungu dan mendungukan.)

Lebih dari itu, terasa benar kekurangan imajinasi dan keterampilan dasar menulis pada kebanyakan ulasan film kita saat ini. Jenis kritik yang dibuat hanya yang itu-itu saja: penilaian film cerita. Bahkan ulasan jenis sinopsis pun sering lemah secara gawat. Jangan dikira menulis “kritik synopsis(an)” tak memerlukan keterampilan sendiri. Cobalah baca ulasan pendek berikut ini (saya ambil acak saja dari rak majalah saya):

Charlie’s Angels: Full Throttle.
PG-13, 106 menit. Lebih banyak lagi hidangan permainan para Barbie spionase, dan lebih banyak lagi kinetika kitsch menegangkan. Adegan-adegan laganya adalah tontonan mini dari gaya “maskulin” yang digubah menjadi kekuatan feminin murni. B+
(Diambil dari Entertainment Weekly # 721, August 1, 2003.)

Perhatikan betapa efektif kalimat-kalimat ulasan itu. Perhatikan juga kosa kata dalam satu paragraf itu. Atau:

Swimming Pool.
R, 102 menit. Sebuah pembauran kenyataan dan fantasi, dengan Charlote Rampling sebagai seorang penulis penulis misteri dari Inggris. Ia menyepi di sebuah vila di pedesaan Prancis yang ia pinjam sejenak, tapi terganggu oleh kedatangan anak perempuan pemilik rumah nan seksi (dimainkan oleh Ludivine Sagnier).
(Diambil dari Entertainment Weekly # 721, August 1, 2003.)

Perhatikan betapa contoh ulasan pendek ini terasa lugas, cerdas, tak asal-asalan. Perhatikan juga bahwa ulasan ini mengandaikan adanya pemahaman dasar pembacanya mengenai khasanah film yang ada. Dalam ulasan mini macam begini, si pengulas harus menyeleksi ketat informasi apa saja yang ia anggap penting untuk diungkapkan, agar dengan segera memberi gambaran penilaian atas film yang diulas.

Perhatikan bahwa dalam kedua ulasan itu tak disebutkan nama sutradara. Sementara di halaman yang sama, ada juga film yang disebut sutradaranya. Dalam ulasan Charlie’s Angels di atas, tiga bintangnya tak disebutkan (dianggap tak perlu, karena toh “semua orang” sudah tahu?). Dalam ulasan Swimming Pool, perlu disebut Charlote Rampling. Seolah pengulas menyentuh wawasan pembaca yang diharapkan tahu belaka siapa Charlote Rampling yang ikonik pada 1970-an itu. Bukan hanya seleksi informasi film, poin penilaian pun diseleksi hanya pada unsur yang dianggap terpenting dari film yang diulas.

Padahal, ini jenis ulasan film yang paling gampangan: panduan konsumen film. Sifat panduan konsumen ini tampak dalam perspektif penilaiannya. Kedua contoh ulasan pendek itu saya ambil dari sebuah halaman yang memuat 12 ulasan pendek serupa sebagai pendamping sebuah daftar box office atau film terlaris di Amerika dalam sepekan. Saya pribadi menilai perspektif ulasan di situ terhitung buruk (Dirty Pretty Things mendapat nilai C, sementara Terminator 3 mendapat B+; ini jelas penilaian yang berangkat dari selera arus utama belaka). Toh saya mengagumi keterampilan menulis dalam ulasan-ulasan pendek itu.

Untuk panduan konsumen film yang punya perspektif bagus, lihat beberapa contoh berikut.

The Contender (2001).
Kadang, begitulah kata sebuah slogan feminis, “the best man for the job is a woman.” Rupanya slogan ini dianut Presiden Amerika, Jackson (Jeff Bridges), sehingga ia memilih Senator Laine Hanson (Joan Allen yang mengagumkan) sebagai wakil presiden ketika lowongan untuk jabatan ini tiba-tiba terbuka. Pilihan ini tak disukai kaum konservatif Gedung Putih, terutama sang among suara Sheldon Runyon (Garry Oldman dalam tampilan yang menebus karirnya yang terpuruk selama ini). Ia menggali sebuah skandal seks dari masa kuliah Hanson untuk merusak kredibilitas dan kelayakannya bagi pekerjaan sebagai wapres. Satu-satunya yang bisa membuat film ini lebih bagus lagi adalah jika kisahnya tentang seorang Presiden perempuan. Barulah jika demikian, kita akan tahu apa sih yang jadi taruhan bagi ego kaum lelaki. Oh, dan jika akhir film yang jingoistik itu membuat Anda sebal, ingat-ingatlah bahwa bagaimana pun, Anda sedang menonton film Amerika. (****)
(Diambil dari Empire, Maret 2002.)

Atau:

Intimacy
Dipenuhi oleh para aktor Inggris yang istimewa, berdasarkan kumpulan cerpen sastrawan kesayangan London, Hanif Kuraishi, Intimacy memperlihatkan London kontemporer lewat mata seorang sutradara Paris, Patrice Chéreu. Dan London yang tampil sungguh tak indah. Lepas dari apa yang mungkin telah Anda dengar tentang film ini, Intimacy bukanlah pornografi hardcore. Alih-alih, ia adalah sebuah realisme-sosial hardcore, sekaligus sebuah penghormatan dari seorang pembuat film Prancis terhadap para pendobrak untuk genre film kekerasan-kumuh Inggris, Mike Leigh dan Ken Loach. (****)
(Diambil dari Empire, Maret 2002.)

Dua contoh ulasan pendek ini menampilkan dengan baik modalitas yang diperlukan untuk membuat ulasan film yang cerdas dan cerkas: wawasan film, wawasan keilmuan tambahan (“realisme sosial”), dan wawasan kata yang membuah pada diksi (pilihan kata), ungkapan jitu, dan pengalimatan yang efektif. Semua modalitas ini bisa tampil lebih baik lagi, jika Anda, misalnya, membaca ulasan-ulasan film New Yorker atau Rolling Stone.

Anthony Lane, dalam ulasan-ulasan pendeknya di New Yorker, misalnya, bukan hanya berwawasan luas dan tajam. Ia bahkan bisa “nakal” dan lucu setengah mati. Lihat saja cara ia membuka ulasannya terhadap film Beautiful Mind (Sutradara: Ron Howard): “Jika Anda menganggap judul film ini busuk, cobalah filmnya. Pada 24 Maret 2002, film ini menerima Oscar untuk kategori film terbaik, sutradara terbaik, dan skenario adaptasi terbaik, dan dengan ini membuktikan bahwa walau The Academy enggan memberi anugerah pada film komedi tapi beberapa keputusannya masih bisa dipastikan memancing tawa lepas kita.” (New Yorker, 15 April 2002)

Atau, bacalah komentarnya yang kejam tapi teramat kocak terhadap film Death to Smoochy di edisi New Yorker yang sama: “Ini bukan benar-benar film. Ini lebih merupakan tabrakan beruntun lima puluh mobil di jalan tol, yang menyamar sebagai film.” Bukannya ia tak bisa serius. Berikut adalah contoh ulasannya terhadap Monsoon Wedding:

Moonson Wedding
Film baru Mira Nair ini dipuji sebagai sebuah film penebar perasaan senang, tapi film ini lebih hebat lagi –racikan yang nyaris tak stabil dari luka, kebingungan, dan hal-hal yang memikat. Peristiwanya mengambil tempat di Delhi, ketika pasangan orang tua kelas menengah (Lillete Dubey dan Naseeruddin Shah) bekerja keras mempersiapkan upacara seserahan putri mereka (Vasundhara Das). Pernikahan itu, tentu saja, telah diatur; di sela segala keributan dan ceracau tentang kemodernan film ini, Monsoon Wedding masih sempat menyarankan –betapa pun “ajaib”nya saran ini, mungkin, bagi penonton New York— bahwa dari perjodohan kuna ini mungkin saja bersemi sebuah cinta yang lestari. Pengantin pria terbang dari Houston, Texas; kerabat lain terbang dari Australia, dan Anda mesti bersiap melihat sebuah benturan budaya. Hasilnya, sebuah komedi –tapi ala kadarnya. Ketegangan India dalam menempatkan ortodoksi dan inovasi (dengarkanlah tabrakan antara kicau burung dan bunyi ponsel) membawa pada sebuah perpecahan keluarga yang melantakkan, yang hanya tersembuhkan sebagian saja oleh perayaan pernikahan di akhir film.
(New Yorker, 15 April 2002)

Apakah Anda memerhatikan bahwa contoh ulasan Moonson Wedding ini jelas-jelas bertumpu pada penilaian cerita film? Saya memang sengaja menampilkan contoh ini, untuk menyampaikan dua poin. Pertama, tradisi mengulas film cerita tak selamanya buruk. Keterampilan menulis yang tinggi dan wawasan yang luas akan membuat ulasan bergaya “old school” atau jadul ini bisa tetap menarik. Kedua, keberagaman jenis kritik yang muncul tak mesti mendepak satu model ulasan film yang dianggap telah kasip. Yang saya keluhkan adalah ketika model kasip itu jadi satu-satunya model, dan dikerjakan secara serampangan pula.

Untuk memberi bandingan, saya contohkan ulasan Pauline Kael dari edisi New Yorker yang sama (yang kebetulan saya ambil secara acak dari rak buku saya), yang menyertakan kepekaan terhadap unsur-unsur filmis noncerita.

The Last Waltz
Boleh jadi ini adalah dokumenter terbaik yang pernah ada mengenai konser musik rock. Film karya Martin Scorsese tentang tampilan The Band untuk hari Thank’s Giving di San Fransisco pada 1976 ini sungguh tak berlebihan dan sangat memuaskan. Secara visual, film ini bernada gelap dan kaya, dan sederhana secara klasik. Sungguh melegakan bahwa kita bisa menyaksikan sebuah film konser tanpa sinematografi yang serba bergerak dan menangkap-apa-saja-yang-kebetulan-tertangkap-kamera. Scorsese menanam kamera-kamera bak seorang jenderal menata pasukannya. Michael Chapman, Vilmos Zsigmond, Laszlo Kovacs, dan David Myers adalah sebagian dari mereka yang bertanggungjawab memberi kita imej-imej kalem dengan segala kegairahan batin di dalam imej-imej itu. Bintang film ini para anggota The Band –Robbie Robertson, Levon Helm, Garth Hudson, Richard Manuel, dan Rick Danko. Juga dibintangi para penampil yang mewakili beragam gaya rock dan berbagai tradisi yang telah memberi energi pada musik ini –Joni Mitchell, Bob Dylan, Van Morrison, Eric Clapton, Muddy Waters, Neil Young, Ronnie Hawkins, Dr. John, The Staples, Ringo Starr, Paul Butterfield, Emmylou Harris, Neil Diamond, dan lain-lain.
(New Yorker, 15 April 2002)

Dalam ulasan pendek ini, Pauline Kael menyentuh soal sinematografi. Tepatnya, soal retorika kamera. Bukan hanya hasil sinematografi itu yang dikomentari secara puitis oleh Kael, tapi juga modus operandinya. Kael bahkan sengaja menyebut nama-nama sinematografer yang membantu Scorsese itu. Bukan hanya untuk menghargai, penyebutan nama-nama itu bisa memberi gambaran pembaca yang agak terlatih dalam menonton film tentang kualitas fotografi yang bisa diharapkan dari film dokumenter ini. Di akhir ulasan, Kael lagi-lagi sengaja menderetkan nama-nama. Kali ini untuk memberi gambaran lanskap musikal yang ada dalam film dokumenter tersebut.

Contoh-contoh ini menunjukkan ada banyak siasat untuk mencuatkan keunggulan (atau kebusukan) sebuah film. Dengan kata lain, ada banyak siasat dalam mengoperasikan prinsip “ukuran atau nilai-nilai suatu film haruslah datang dari dirinya sendiri” seperti yang disebutkan oleh JB. Kristanto. Kael, misalnya, kadang mengutip sebuah kalimat dialog film secara lengkap. Anthony Lane banyak menyorot segi kisah dan kekisahan film, tapi tak jarang juga mendekati sebuah film dari segi konteks sosial-budayanya. Tony Rayn dan Roger Ebert telaten menelaah berbagai aspek film yang seringkali hanya tertangkap setelah menonton berulang-ulang dan bahkan kadang dengan memelajari frame demi frame.

Dan kita baru mengambil contoh ulasan-ulasan pendek. Di majalah luar negeri, bukan hal aneh jika ada film-film –jika memang dianggap sangat penting—yang dibahas sampai berhalaman-halaman majalah. Ini, saya garis bawahi, bukan jenis ulasan akademis yang biasanya panjang itu. Ulasan-ulasan panjang tentang film kadang tak lebih dari “panduan konsumen”, hanya saja sangat mendalam. Apalagi jika memang sebuah tulisan film panjang hendak jadi kritik film dengan misi tertentu, atau menjadi sebuah dialog wacana. Betapa kaya kemungkinan yang dibuka sebuah sebuah ulasan panjang, jika demikian!

Artinya, tulisan film atau ulasan film tak lagi sekadar pekerjaan sampingan yang remeh dan sambil lalu. Ia tumbuh menjadi sebuah cabang seni menulis yang mandiri. Ia menjadi wahana dialog seorang penulis dengan sebuah karya seni yang kebetulan adalah film. Nah, alangkah jauhnya gambaran kerja menulis film ini dengan kenyataan masih banyaknya kesalahan fatal dalam ulasan film kita.

Di Indonesia, kita masih membaca bahwa Bourne Ultimatum adalah film “science fiction”; atau bahwa Disturbia adalah “diambil dari novel Vertigo karangan Alfred Hitchcock”. Astaga.

Saya tak menemukan penjelasan lain dari kesalahan fatal ini selain bahwa si penulis memang meremehkan penulisan film. Di zaman internet ini, seorang wartawan (apalagi ia berkantor di koran terbesar di Indonesia) tak bisa lagi mengaku kekurangan informasi. Dan, kok editornya sampai berkali-kali meloloskan kesalahan sejenis? Kalau tidak karena ada yang salah dalam sistem kerja redaksi, berarti ini karena editornya pun tak paham serta meremehkan kerja menulis film. Boro-boro deh, berharap penulis atau media itu berevolusi ke tahap lebih canggih dalam menulis film.

Masak mesti ada rubrik “kritik terhadap kritik film?” Wah!***

Minggu, 07 Desember 2008

Teknik Menulis Reportase



Oleh Zainal Bakri

Wartawan Metro TV

Disampaikan Pada Pelatihan Jurnalisme Damai, 2-3 Mei 2007

Dilaksanakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP

Universitas Malikussaleh Lhokseumawe Bekerjasama dengan BRR-Satker Pemulihan dan Pengembangan Agama, Sosial dan Budaya Wilayah II Lhokseumawe

Bukan hal yang salah jika media memberitakan berbagai hal yang terjadi dalam masyarakat. Apa pun yang terjadi dalam masyarakat dan perlu diketahui khalayak, dan media memiliki tugas untuk memberitakannya. Memberitakan konflik pun tidak selalu berdampak negatif. Ada kalanya berita tentang konflik berikut penyelesaiannya, dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam menangani masalah yang sama.

Namun, memang diakui, media bukanlah lembaga yang terbebas dari prasangka, subjektivitas atau pun kepentingan-kepentingan tertentu. Pemilik media, bisa menentukan kebijaksanaan terhadap suatu berita meski pun bertentangan dengan keinginan jurnalis di lapangan. Berita akhirnya bisa dibuat berdasarkan kepentingan bisnis, politik dan lainnya.

Namun, membiarkan media memberitakan apa ada nyasuatu hasil wawancara, rekaman gambar atau fakta-fakta yang ditemukan kepada masyarakat, sama saja memperbesar konflik atau kekerasan. Misalnya, pada pemberitaan televisi, bila gambar kekerasan diperlihatkan hanya dilakukan oleh satu pihak tertentu, tentunya akan menimbulkan kemarahan pemirsa yang mendukung pihak satunya.

Karenanya, yang terbaik bagi media tetaplah memihak kepada kebenaran atau kepada masyarakat. Bila ditugasi meliput sebuah konflik terbuka yang berpotensi menimbulkan kerugian pada masyarakat luas, maka kerugian itulah yang seharusnya dijadikan topik liputan. Ungkapkan bagaimana menderitanya warga akibat terjadinya konflik itu. Gambarkan juga seandainya konflik tersebut tak terjadi, bagaimana ketenangan dan keuntungan lain yang bisa diterima oleh masyarakat.

Dalam format jurnalisme damai, reporter selalu mengangkat sisi buruk yang ditimbulkan akibat sebuah konflik, diluar itu juga menyertakan solusi yang bisa ditempuh untuk mengakhiri konflik itu sendiri. Bukan sebaliknya, mengangkat bagaimana konflik itu terjadi hingga memicu konflik itu bertahan dan menyebabkan kerugian yang lebih luas di tengah masyarakat.

Intinya jurnalisme damai melaporkan suatu kejadian dengan bingkai (frame) yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, dan membuka peluang pada pemahaman non kekerasan (non violence). Karenanya juga jurnalisme damai di Indonesia kerap disebut dengan istilah lain seperti : Jurnalisme Non Kekerasan, Jurnalisme Kemanusiaan, Jurnalisme Korban, Jurnalisme Advokasi dan beberapa nama lain.

Untuk lebih membedakan tulisan yang dikemas dalam format jurnalisme damai dan ajurnalisme kekerasa, coba perhatikan penggalan features berikut :

Pagi itu, jam baru menujukkan pukul 06.30 WIB. Namun kegaduhan dan ketegangan sudah membalut seluruh Desa Alue Awe. Suara pentungan telah terdengar sejak sekitar 30 menit yang lalu. Suara pentungan yang dibunyikan dengan teknik khusus memberi isyarat bahwa desa tersebut dalan keadaan bahaya. Sudah menjadi ketentuan, bila terdengar suara pentungan seperti itu, maka seluruh pria dewasa, mulai dari pemuda hingga kakek kakek harus berkumpul di alun alun desa dengan senjata lengkap.

“Hari ini kita akan kembali mempertahankan harga diri kita, harga diri desa kita. Kita akan berperang melawan warga Desa Kandang. Sampai titik darah penghabisan,” kata Yunus Itam, Ketua Adat Desa Alue Awe. Ratusan warga menyambut seruan Itam dengan yel yel sambil mengacung acungkan tombak, parang dan rencong. Mereka siap untuk kembali maju ke medan perang, menyerang desa tetangga mereka yang dianggap sebagai musuh sejak puluhan tahun yang lalu.

Desa Alue Awe dan Desa Kandang merupakan dua dari tiga puluh desa di pesisir utara Lhokseumawe. Kedua desa ini sudah berperang sejak sekitar tahun 60an karena berbagai faktor, sebagian besar karena dendam atau selisih paham antar warga. Seperti halnya peperangan kali ini, yang dipicu oleh pemukulan seorang pemuda Desa Alue Awe oleh sekelompok pemuda lain dari Desa Kandang. Penyebabnya sepele, pengeroyokan terjadi karena Muhammad Isa, 23 salah seorang warga Alue Awe tak menganggukkan kepala atau mengangkat tangan saat melewati sekelompok pemuda yang berjaga jaga di tapal batas Desa Kandang.

(Bisa anda bayangkan, bila berita ini dibaca oleh warga Desa Alue Awe yang lainnya, maka mereka juga akan terpancing emosinya untuk menyerang Desa Kandang. Karena dalam berita tersebut, yang diangkat justru sisi peperangan, dan penyebab peperangan itu terjadi. Ini adalah format berita yang ditulis tidak mengikuti term Peace Jurnalism atau Jurnalisme Damai. Tulisan seperti ini bahkan layak disebut sebagai karya Jurnalisme Patriotik atau Jurnalisme Peperangan.)

Sekarang coba anda bedakan dengan penggalan features berikut:

Azhari Husen, 12 tahun tertunduk lesu. Bocah kelas enam Sekolah Dasar Negeri 12 Desa Alue Awe, Lhokseumawe itu kembali tak bisa belajar di sekolahnya. Padahal, pagi itu ia telah bersiap lebih awal untuk berangkat ke sekolahnya dibandingkan sehari sebelumnya. Azhari ingin setibanya di sekolah, I amasih punya waktu beberapa menit untuk menghafal beberapa halaman buku yang belum smepat dibacanya semalam, karena keburu mengantuk. Namun Husen dan Aminah, kedua orang tuanya sepakat melarang anak mereka untuk libur dari kegiatan belajar mengajar. Pasalnya, peperangan yang kembali pecah pagi itu, dikhawatirkan akan berdampak buruk saat anaknya pergi atau ketika kembali dari sekolah.

Azhari hanya bisa pasrah sambil memeluk tas warna biru bertuliskan UNICEF di depan pintu rumahnya. Ia menyesalkan mengapa, orang tua di desanya tak pernah bosan memelihat konflik. Hingga entah sudah berapa kali, anak anak sepertinya tak bisa mengikuti pelajaran di sekolah akibat dari peperangan yang terjadi saban bulan.

Perang antar warga Desa Alue Awe dan Desa Kandang, tetanggnya telah terjadi sejak sekitar tahun 1960an. Entah apa pemicu pertama perang tersebut, yang jelas perang itu masih lestari hingga sekarang. Tak terhitung sudah berapa warga Desa Alue Awe dan Desa Kandang yang mati dalam peperangan tersebut. Seperti juga tak terhitung sudah berapa anak anak dari kedua desa itu yang mnejadi yatim, dan para wanita yang berubah statusnya menjadi janda.

Perang memang tak pernah melahirkan kedamaian dan ketenangan. Perang justru merenggut kebahagian warga, harapan anak anak untuk bisa hidup lebih baik di masa depan. Perang telah merenggut keinginan Azhari Husen, dan ratusan bocah lainnya untuk bisa belajar dengan baik, menjawab soal soal ujian secara lancar dan menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Features pertama ditulis dengan penggambaran konflik, pemicu konflik dan para pelaku konflik. Sementara features kedua mengangkat salah satu korban konfli yang tak terlihat mata. Korban yang terenggut haknya untuk mendapatkan pendidikan tanpa halangan dari siapapun. Sebuah perbedaan yang tajam dari dua tulisan yang sama sama menulis tentang perang antar desa yang sama.

Ada beberapa langkah yang bisa anda lakukan sebelum anda meliput sebuah berita, agar anda tidak tergiring untuk melahirkan berita yang menjadi ‘pembakar’ sebuah konflik di tengah masyarakat untuk tetap berkobar.

- Lakukan riset secara mendalam tentang apa yang terjadi

- Lakukan reportase langsung (jangan andalkan hasil wawancara)

- Pilihlah nara sumber yang memahami persoalan secara baik dari kedua belah pihak

- Jaga jarak agar anda tidak terpancing untuk terlibat secara emosiaonal dalam konflik itu (lihat contoh kasus Ambon antara wartawan muslim dan kristiani)

- Pilih tema yang menggambarkan betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh sebuah konflik.

Berikut beberapa perbedaan tentang apa yang dilakukan wartawan pro jurnalisme damai dan wartawan pro jurnalisme perang atau jurnalisme kekerasan.

Jurnalisme Damai

- Melihat sisi kemanusiaan dari segala sisi, dan mengecam penggunaan senjata.

- Berfokus pada efek kekerasan yang tidak terlihat, seperti trauma, rasa kemanangan, dan kerusakan pada struktur budaya masyarakat)

- Berfokus pada kesengsaraan bersama; wanita, anak anak, dan memberikan suara pada yang tidak mampu bersuara

- Berfokus pada mereka yang merintis perdamaian

- Berfokus pada struktur, kebudayaan dan masyarakat yang damai

Jurnalisme Kekerasan

- Melihat mereka yang ada di dalamnya tidak sebagai “manusia” dan begitu juga dengan penggunaan senjata

- Berfokus hanya pada efek yang bisa terlihat mata (korban tewas, terluka dan kerusakan material)

- Berfokus pada kesengsaraan suatu kelompok elite, menjadi corong kelompok elite

- Menyebut nama pada kelompok yang membuat penderitaan

- Menyebut nama untuk memfokuskan pada elite perintis perdamaian


Sumber: http://komunikasiunimal.multiply.com/journal/item/45/Teknik_Menulis_Berita_dan_Reportase_Konflik

Teknik Menulis Kolom/Opini

Oleh Farid Gaban | Pena Indonesia


PENGANTAR

Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak
esai atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:

- OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.

- SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan
jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang
"obyektif".

- PERSUASIF: dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi
sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang
diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca.
Dalam berbagai survai media, rubrik opini dan editorial (OP-ED)
umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan:

- SERIUS dan PANJANG: orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau
serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada
pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin
panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris)
makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Keliru! Tulisan seperti
itu takkan dibaca orang banyak.

- KERING: banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak
"berjiwa", karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa
tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak,
anti-humor dan tanpa bumbu.

- MENGGURUI: banyak tulisan opini terlalu menggurui (berpidato,
berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.

- SEMPIT: tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam
bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan) .
Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu
asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis,
sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.

KOLOM: "ESSAY WITH STYLE"

Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau
majalah adalah menulis untuk hampir "semua orang". Tulisan harus lebih
renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa
kehilangan kedalaman—-tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.

Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti
sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi
untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan
bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya
bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan
berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor,
menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.

Mengingat "reputasi" esai sebagai bacaan serius, panjang dan
melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah
kenapa belakangan ini muncul "genre" baru dalam esai, yakni "creative
non-fiction" , atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif.

Dalam "creative non-fiction" , penulis esai mengadopsi teknik penulisan
fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi)
ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan
berlagak obyektif, "creative non-fiction" juga memungkinkan penulis
lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang
ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak,
esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya ("style") serta
personalitas si penulis.

Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah
pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah,
atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca
tanpa interupsi).

PENULISAN KOLOM INDONESIA

"Creative non-fiction" bukan "genre" yang sama sekali baru sebenarnya.
Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis
esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan "style" dan
personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena
memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer
serta "stylist".

Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam,
YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman
Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha
Ainun Nadjib.

Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis
esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas
(kedokteran- psikologi) , Bondan Winarno (manajemen-bisnis) , Sanento
Juliman (seni-budaya) , Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat
(media dan agama).

Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu
adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam "creative
non-fiction" batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur.
Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki
kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran.

Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti
itu. Kecuali Goenawan ("Catatan Pinggir"), Bondan ("Asal-Usul" di
Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian "Kedaulatan Rakyat"), para penulis
di era 1980-an sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento
dan Brower sudah almarhum).

Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai
baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang
sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith
Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik) ,
Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh
Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan
substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya "terlalu serius" dan
kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena
dia juga sesekali menulis cerpen.

Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda
sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto,
Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian.

Padahal, sekali lagi, mengingat "reputasi" esai sebagai bacaan serius
(panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai
lebih besar lagi.

TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM

Kenapa esai astronomi Stephen Hawking ("A Brief History of Time"),
observasi antropologis Oscar Lewis ("Children of Sanchez") dan skripsi
Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun ("Orang-orang di Persimpangan
Kiri Jalan") bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan
manajemen Bondan Winarno ("Kiat") dan artikel kedokteran-psikolog i
Faisal Baraas ("Beranda Kita") bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis
"pakar" yang mampu menyajikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan
bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan
populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif
dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah
prasyarat dan sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:

Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu
"memelihara" keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka
melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di
lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk
bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak
puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali.
Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis,
bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:

Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas
atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin
memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka
menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih
universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas.
Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang "rumit" dan sulit dibaca
adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan
struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan
pembaca menelan tulisan.

Kepekaan dan Keterlibatan:

Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul
lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan
dan penjual sayur di pasar?

Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang
"sastrawi" jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan
alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung
Semeru).

Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan
maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial
yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap
tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya.
Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang
indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness) :

Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya
bukan penulis yang "berkacamata kuda". Dia membaca dan melihat
apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada
pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai
filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar
musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua
hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di
perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller) :

Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang
berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan
disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti
layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.

APA SAJA YANG BISA DIJADIKAN TEMA ESAI?

Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang
bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap
tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi.

Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang
populer dan diminati pembaca. "Beranda Kita"-nya Faisal Baraas
menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk
khalayak pembaca awam sekalipun.

Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis
apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat
sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.

- Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
- Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
- Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
- Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
- Media dan Telekomunikasi
- Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
- Kimia dan Fisika Terapan
- Elektronika
- Otomotif
- Perilaku dan gaya hidup
- Keluarga dan parenting
- Psikologi dan kesehatan
- Arsitektur, interior, gardening
- Pertanian dan lingkungan

Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti
perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.

TEKNIK PENULISAN KOLOM

Mencari ide tulisan

Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa
menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan
mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide
tulisan sebenarnya "sudah ada di situ" tanpa kita perlu mencarinya.
Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya.
Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa
pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak
terlampau basi).

Merumuskan masalah

Esai yang baik umumnya ringkas ("Less is more" kata Ernest Hemingway)
dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana,
ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang
akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek.
Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah
bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah
(kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan

Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa
bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus
diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara,
reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan

Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog.
Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak
narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis
memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:

- Dialog (Umar Kayam)
- Reflektif (Goenawan Mohamad)
- Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
- Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis

Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan
benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan
tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda
kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan) .

Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada
fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita
tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di
buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun
dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah
teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan
deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari
sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai,
baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua
kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek:
melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. "Tidak" sering
bisa diringkas menjadi "tak", "meskipun" menjadi "meski" dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat,
dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja
pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak
terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai
persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap
menggurui. Jika mungkin hindari kata "seharusnya" , "semestinya" dan
sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya
menyampaikan pesan. Don't tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot,
ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih "basah" dan berjiwa.

Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh.
Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya
sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di "luar
sana".

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk
membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik
mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa
membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita
koreksi sebelum diluncurkan ke media.

"MENJUAL" KOLOM KE MEDIA

Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat
tulisan Anda?

Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan
cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru.
Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar.

Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang "punya nama" tanpa pernah
menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan
ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka
melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan
menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal
sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.

Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari
penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak
selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang
tersebut.

Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika
Anda menuliskannya dengan gaya "style" yang orisinal dan istimewa
serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan
memuatnya.

Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema
tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan
kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam
dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang
paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak
mendalaminya.

BAHAN BACAAN LANJUTAN

Teknik Penulisan
- Argumentasi dan Narasi (Gorys Keraf)
- Yuk, Menulis Cerpen, yuk (Mohammad Diponegoro)

Catatan Harian dan Korespondensi
- Catatan Harian Soe Hok Gie
- Surat-surat Iwan Simatupang
- Catatan Harian Ahmad Wahib

Kumpulan Esai
- Catatan Pinggir dan Kata, Waktu (Goenawan Mohamad)
- Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih tanpa Banda (Umar Kayam)
- Faisal Baraas (Beranda Kita)
- Puntung-Puntung Roro Mendut (YB Mangunwijaya)

Kumpulan Cerpen
- Orang-orang Bloomington (Budidarma)
- Lukisan Perkawinan (Hamsad Rangkuti)
- Odah (Mohamad Diponegoro)
- Leak (Faisal Baraas)
- Tegak Lurus Dengan Langit (Iwan Simatupang)
- Bromocorah (Mochtar Lubis)

SELESAI

sumber:
milis jurnalisme